And The Mountains Echoed – Khaled Hosseini

Bismillah

Halo . Niat saya ingin me-review buku atau novel apapun yang sudah dibaca meski kadang akhirnya tulisan saya terlihat seperti curhatan dan kebanyakan pandangan pribadi mengenai buku tersebut. Ya sudahlah biarkan saja saya. Ok!

Akhirnya setelah dibeli pada tahun 2014, buku And The Mountains Echoed karya Khaled Hosseini saya selesaikan hari ini, tepatnya sebelum saya menulis di blog ini. Memakan waktu dua tahun. Ya, bisa jadi dua tahun adalah salah satu waktu yang singkat mengingat kebiasaan malas saya membaca dan melahap buku dengan konsisten. Entah membaca bisa saya klaim sebagai hobi atau tidak. Tapi jauh dalam lubuk hati terdalam, membaca adalah kesenangan saya. What? Iya, setelah membaca karya Khaled Hosseini “The Kite Runner” (dipinjam dari mira Jan), saya tertarik untuk membeli novel “And The Mountains Echoed” nya. Masih dengan nuansa yang sama seperti sebelumnya. Mengambil latar tempat di Afganistan dan Amerika, namun kali ini entah kenapa menurut saya lebih detil dan latar tempat nya bertambah. Alurnya maju mundur.

Cerita tentang ikatan persaudaraan yang sangat dalam. Sang kakak, Abdullah dengan adiknya bernama Pari yang selalu bersama dalam setiap waktu. Tidak disangka hubungan mereka yang begitu dalam harus putus tiba-tiba. Sesuatu telah direncanakan oleh orang-orang di sekitar Abdullah tanpa sepengetahuannya. Sang Paman dan Ayahnya membuat perjanjian. Bagi sang Ayah, itu berat karena akan ada pengorbanan, namun iparnya, Nabi, mengatasnamakan “kebaikan bersama” saat mengusulkan ide tersebut. Kedengarannya egois, namun setelah melihat dari sudut pandang lain, saya jadi mengerti mengapa Nabi tega melakukannya.

Saat membaca novel ini, pada awalnya saya mengira akan habis mengupas tentang tokoh kakak dan adik yang tak bisa dipisahkan. Nyatanya meluber kemana-mana. Banyaknya tokoh membuat ceritanya jadi banyak versi. Namun, tetap saja Hosseini berhasil, menurut saya, fokus kepada tiap kisah semua tokoh. Ibu tiri Abdullah contohnya. Parwana, meski di awal cerita digambarkan cenderung tanpa ekspresi dan selalu bersembunyi di pojok ruangan, ternyata ada cerita dibalik sikapnya itu. Kebanyakan mengandung luka. Ia melalui suatu sesi kehidupan yang sederhana namun sebenarnya agak rumit. Loh?

Setiap orang punya cerita hidupnya masing-masing, jangan terlalu cepat menghakimi sebelum tahu seluk beluknya. Begitu kira-kira ungkapan yang pernah saya baca di sebuah artikel. Sama hal nya setiap karakter yang diciptakan Hosseini dalam karyanya ini. Masing-masing punya warnanya sendiri. Tuan Wahdati yang dianggap arogan dan kaku oleh Nabi ternyata menyimpan rahasia besar selama ini. Meski Nabi melayani dengan setia Tuannya, kadang ia menyimpan rasa penasarannya dalam-dalam. Berharap ada penjelasan di balik semua itu, dan benar saja, ia mendapatkan penjelasannya dari Tuan Wahdati sendiri. Kisah Majikan dan pembantunya yang tidak biasa. Ada pengorbanan, kebohongan terselubung, rasa sakit, haru namun melegakan.

Secara keseluruhan, Hosseini menggambarkan dengan gamblang sifat masing-masing tokohnya. Mengalir dan berputar, membawa saya ke Paris, Kabul, Yunani, dan Amerika di saat yang bersamaan. Yah, maksud saya pikiran saya dibawa olehnya. Membayangkan bagaimana setiap tempat mempengaruhi setiap karakter. Pertumbuhan dan sudut pandang mereka. Dengan watak yang berbeda-beda, sebagian besar karakter diberi kenangan yang dalam akan rumah dan kenangan mereka masing-masing.

Hosseini menggali cukup dalam hanya untuk menyuguhkan kita pribadi yang berkesan di dalam diri masing-masing karakter. Agak kompleks. Namun dimana-mana yang dicari dari sebuah carita adalah bagaimana ending cerita tersebut. Tak ada happy atau sad ending, masing-masing pembaca punya versi tersendiri mengenai hal itu. Dalam novel ini, tentunya ekspektasi saya adalah melihat bagaimana Abdullah, sang kakak yang begitu melindungi Pari bak permata bisa akhirnya bertemu adiknya dalam waktu singkat. Nyatanya, tak semudah itu. Jalurnya berbeda. Ia malah dipertemukan Pari dalam keadaan yang tidak diharapkan. Sang kakak, yang justru merasakan kehilangan dan luka yang amat sangat perih malah tidak memenuhi harapan saya pada akhir cerita. Di sisi lain, Pari yang dipisahkan dengan Abdullah tanpa mengerti dan mengingat apa-apa, seakan-akan tombol reset telah ditekan oleh orang-orang sekelilingnya, justru merasa hidupnya telah terpenuhi karena akhirnya bisa bertemu dengan masa lalunya yang paling berharga. Masa lalu yang tertutupi oleh kabut tebal. Masa lalu yang menjadi pemecah teka-teki kehidupannya. Masa lalu yang menutupi lubang-lubang di hatinya. Pari merasa lega. Saya pun lega.

Menurut saya beberapa hal menjadi hi-lite dalam novel ini, seperti sebuah kotak milik Pari yang selama ini disimpan oleh Abdullah berisi bulu, namun sebagai pembaca, saya menangkap hal lain dan menurut saya hal itu tidak begitu berbekas di ingatan saya. Yang ada hanya ingatan tentang luka di hati dan bagaimana masa lalu ataupun masa depan bisa menjadi penawar sakit setiap orang.

Well, itu dia, review saya mengenai novel ini. Kalau lebih mirip curhatan ketimbang review buku, ya biarkan saja saya. Sekian. Semoga bermanfaat.

Selamat berbahagia di bulan Ramadhan yang penuh berkah.

Iklan

Silenced By The Night

Thank God for the melody that flows. Reminds me of the past.

The past where I can hold him. The past where I can stare at his sharp-eyed. Not to mention the childish smile that fooled me. Nothing is warmer than your touch. Whenever we hugged or shook hands after a sincere apology. Nothing is funnier than the fight of sister and brother. Who love each other but argued all the time over a stupid thing. Just like most kids do.

So Thank God for the night. Where we can rest in silence.

Like our love that doesn’t show in the surface. It stays calm. The love that only we knows. Like the silence of the night that embraced whole world without us knowing. It encourages us to protect the weak one, to be wise, to holding on someone we love.

I don’t know if it’s still matter in the day after, but as I still breath and walk on this ground,  I will always cherish all the memories he left me. I spent all day beautifully with him. Beautifully odd. The memories that I carry for the rest of my life.

My dear, I know I am such pain in the a** sometimes, maybe many times or most times but what can I do darling? Its a fragile soul live within a fragile circle. A soul that always reach out for somebody…like you. Like you my dearly brother. You saw me, knew me, we’ve been tru all those rough days oddly. Because I was odd and you weren’t. I am odd and you are not…just so you know I will always be odd in people’s point of view. I am who i am. I love you always and miss you most days. Night after night I spent wondering if you can still watch me all day…

scan0002 - Copy

Oh simple thing where have you gone?
I’m getting old and I need something to rely on
So tell me when you’re gonna let me in
I’m getting tired and I need somewhere to begin

And if you have a minute why don’t we go
Talk about it somewhere only we know?
This could be the end of everything
So why don’t we go
Somewhere only we know?

(KEANE)

月涼し蛙の聲のわきあがる

tsuki suzushi

kawazu no koe no

wakiagaru

the moon is cool

frogs’ croaking

wells up

[Masaoka Shiki, a poet]

View on Path

Don’t Hide Away

On the night in question, you took from the records from your record collection and smashed them into pieces, pieces on the ground.
And you didn’t even try to deny it.
You said that you needed it quiet.
They were playing, they were playing, and you had to get away from the sound.

Don’t hide away too high or low.
I’d really like to see you, don’t you know?
Don’t hide away. Please keep in close.
Cause if I can’t seem to find you, then you’ll stay alone.

By your own admission, there is nothing left to eat in the kitchen, and the garbage and the clutter is piling up out in the hall. Well you know I’m gonna write you a letter, every day like you were a debtor, so you might as well pick up the phone and give me a call.

Don’t hide away too high or low.
I’d really like to see you, don’t you know?
Don’t hide away. Please keep in close.
Cause if I can’t seem to find you, then you’ll stay alone.

–TBA

Mukjizat Al Quran ( M Quraish Shihab)

GambarAssalamualaikum Wr Wb.

Tulisan berikut termasuk “late post” karena jenis buku yang saya sharing sudah lama terbitnya. Saya juga yakin sudah banyak sekali yang sudah membacanya, bahkan mengkajinya. Namun  saya pribadi baru sempat membaca buku tsb (selama bertahun-tahun berdebu di lemari buku di rumah). Sesuai dengan judulnya, Mukjizat Al Quran, buku ini mengungkap banyak keistimewaan kitab suci umat Islam yang ditinjau dari aspek kebahasaan, isyarat ilmiah dan pemberitaan gaib. Mulai dari bahasa, keindahan kalimat dan kata, pokoknya sungguh menggetarkan hati. Kalau tidak salah cetakan pertama buku ini terbit tahun 1997, dan bapak saya membeli bukunya pada tahun 1998. Saat itu saya berumur 8 tahun 🙂 .

Bagi orang awam seperti saya, buku ini amat sangat menarik dan menurut saya penting untuk dibaca as muslim yang belum membaca buku ini (mungkin saya saja yang baru baca,hehe). Secara garis besar,umat Islam di seluruh dunia meyakini kesakralan, kesucian dan kebenaran Al Quran meskipun belum membaca, mengkaji dsb. Ada juga sebagian orientalis, muslim yang hobi mengkritisi kitab suci dll.  Namun buku ini menurut saya sangat menyejukkan hati dan pikiran. Memuaskan akal, ya, saya pikir begitu.. Terlepas dari sudah tidaknya saya membaca buku-buku yang mengungkap kebenaran Al Quran, tentu saja saya meyakini kebenarannya. Dan melalui tambahan referensi dan utamanya kajian pada Al Quran itu sendiri, kita, muslim bisa benar-benar mengambil hikmah yang sangat besar dari hal tsb.

Sang penulis, M. Quraish Shihab juga memberikan penjelasan-penjelasan yang detil, meski, sesuai dengan pengakuannya yang mengatakan pembahasan tentang kesitimewaan dan mukjizat Al Quran bisa lebih panjang dari apa yang dipaparkannya dalam buku ini. Saya juga berpikir demikian, karena banyak sekali sumber-sumber, atau informan yang bisa memberikan gambaran dan penjelasan yang lebih besar, merinci tentang hal terkait. Well, di sini saya tidak mencoba untuk memberikan review. Saya hanya sharing buku ini karena menurut saya pribadi bagus dan cukup mencerahkan. Di luar itu semua, bukankah Al Quran memang merupakan pedoman hidup manusia, which means solusi untuk semua problem kehidupan dari berbagai aspek. Semoga kecintaan kita terhadap Al Quran semakin bertambah. Karena mengimaninya adalah suatu keharusan, dan kita juga meyakini kebesaran Allah melalui kalam-kalamNya. I think thats all. Wassalam.