AIGAHAB

Bismillah.

“Tumben nulis? What’s the occasion?” I asked my self.

Well, Why not?” I answered.

Satu hari dalam setiap minggu bahkan bulan dan tahun yang indah dan disyukuri. Mengapa tidak mengikatnya? Mengapa tidak mengabadikannya? Ah, Aku Bahagia. Aku merasa ingin menyombongkannya ke seluruh dunia. Tak tahu apa ini akan bertahan beberapa jam saja atau sehari atau selamanya. Selamanya? Hmm…atau begini, kebanyakan dari hidupku saja? Kenapa tidak selamanya?

What Happened?” I asked my self again.

Just happiness. Happiness happened.” I said with a wide smile on my face.

So, something big must have happened. Right?” the curious side of me try to corner.

Sesuatu yang besar terjadi dan manusia merasakan kebahagiaan? Sesuatu yang besar seperti apa? Bagaimana sesuatu bisa dikatakan besar? Apa ukurannya?  Siapa yang mengukur? Huft. Ayolah.

Semua orang selama ratusan bahkan ribuan tahun mungkin mencoba memecahkan rahasia kebahagiaan. Semua ingin menulis resep bahagia yang dengan ikhlas dibagikan kepada seluruh ummat. Banyak yang melalui banyak lapisan rintangan atau apapun namanya, kemudian menemukan solusi. Dari berjuta-juta atau milyaran solusi dan pengalaman yang diutarakan kumpulan manusia-manusia hebat, kadang masih terasa kurang. Selalu terasa ada yang kurang. Padahal alur kehidupan yang berjalan (mungkin) sudah kita pahami iramanya. Namun selalu terasa ada yang kurang. Ada yang lubang? I wonder why? Many times.

Segerombolan manusia berusaha mencari jati dirinya. Jati, sejatinya, kemurnian dirinya, fitrahnya. Ia mencarinya. Mencari tahu apakah keputusanya selama ini sudah benar? Apakah acuannya selama ini sudah benar ?

Pagi ini, anak manusia yang cenderung memenuhi otaknya dengan perasaan bersalah, penyesalan, berjalan ke luar. Ke luar dari tempatnya. Berjalan di tengah lalu lintas kehidupan. Ia mencoba membebaskan pikirannya dari kabut. Sambil mengamati sekitar, udara pagi yang ia hirup secara otomatis mendorong belasan otot muka yang kemudian menggerakan bagian mulutnya. Senyum tersungging. Udara bersih yang ia hirup memenuhi paru-parunya, mengalir ke otaknya. Tersebar ke seluruh organ tubuhnya. Menyalakan lampu kesadaran. Sadar bahwa ia telah dikirimi nikmat yang besar. Sadar bahwa tak peduli sebesar apa lalu lintas kehidupan yang terjadi di sekitarnya, baik atau buruk, selalu ada celah. Celah yang menyalurkan kemurnian, sesuatu yang jernih dan suci. Kasih Allah SWT yang tak pernah berhenti bahkan di setiap udara yang manusia hirup. Kasih yang selalu mengalir bahkan di saat manusia lupa kepadaNya.

Pagi kemarin dan ribuan, milyaran pagi yang telah berlalu memberikan kesadaran kepada banyak anak manusia. Bahagia itu sederhana, saya mencoba mengulang keyakinan banyak orang yang diutarakan banyak manusia. Semoga ungkapan itu tidak berhenti di mulut saja. Mari bahagia. Mari tersenyum. Senyuman paling indah yang bisa kau berikan ketika kau terhimpit sekalipun. Ketika kau tahu kau dirugikan manusia lain sekalipun, ketika kau telah melakukan kesalahan sekalipun. Tersenyumlah karena yakin bahwa ada sosok yang mengampuni, mengasihi dan melindungi. Sosok segala-galanya. Yang penuh dengan cinta dan kau pun mencintaiNya.

Well, that explains everything.” my self try to flatter me.

I smiled. But then continue “Let’s just try,Ok? We might get stuck or stumble in the middle, we might even fall but..just keep going. Keep heading the right way.” I convinced her.

I’ll just believe in you,” she said.

Bismillah,”.

And The Mountains Echoed – Khaled Hosseini

Bismillah

Halo . Niat saya ingin me-review buku atau novel apapun yang sudah dibaca meski kadang akhirnya tulisan saya terlihat seperti curhatan dan kebanyakan pandangan pribadi mengenai buku tersebut. Ya sudahlah biarkan saja saya. Ok!

Akhirnya setelah dibeli pada tahun 2014, buku And The Mountains Echoed karya Khaled Hosseini saya selesaikan hari ini, tepatnya sebelum saya menulis di blog ini. Memakan waktu dua tahun. Ya, bisa jadi dua tahun adalah salah satu waktu yang singkat mengingat kebiasaan malas saya membaca dan melahap buku dengan konsisten. Entah membaca bisa saya klaim sebagai hobi atau tidak. Tapi jauh dalam lubuk hati terdalam, membaca adalah kesenangan saya. What? Iya, setelah membaca karya Khaled Hosseini “The Kite Runner” (dipinjam dari mira Jan), saya tertarik untuk membeli novel “And The Mountains Echoed” nya. Masih dengan nuansa yang sama seperti sebelumnya. Mengambil latar tempat di Afganistan dan Amerika, namun kali ini entah kenapa menurut saya lebih detil dan latar tempat nya bertambah. Alurnya maju mundur.

Cerita tentang ikatan persaudaraan yang sangat dalam. Sang kakak, Abdullah dengan adiknya bernama Pari yang selalu bersama dalam setiap waktu. Tidak disangka hubungan mereka yang begitu dalam harus putus tiba-tiba. Sesuatu telah direncanakan oleh orang-orang di sekitar Abdullah tanpa sepengetahuannya. Sang Paman dan Ayahnya membuat perjanjian. Bagi sang Ayah, itu berat karena akan ada pengorbanan, namun iparnya, Nabi, mengatasnamakan “kebaikan bersama” saat mengusulkan ide tersebut. Kedengarannya egois, namun setelah melihat dari sudut pandang lain, saya jadi mengerti mengapa Nabi tega melakukannya.

Saat membaca novel ini, pada awalnya saya mengira akan habis mengupas tentang tokoh kakak dan adik yang tak bisa dipisahkan. Nyatanya meluber kemana-mana. Banyaknya tokoh membuat ceritanya jadi banyak versi. Namun, tetap saja Hosseini berhasil, menurut saya, fokus kepada tiap kisah semua tokoh. Ibu tiri Abdullah contohnya. Parwana, meski di awal cerita digambarkan cenderung tanpa ekspresi dan selalu bersembunyi di pojok ruangan, ternyata ada cerita dibalik sikapnya itu. Kebanyakan mengandung luka. Ia melalui suatu sesi kehidupan yang sederhana namun sebenarnya agak rumit. Loh?

Setiap orang punya cerita hidupnya masing-masing, jangan terlalu cepat menghakimi sebelum tahu seluk beluknya. Begitu kira-kira ungkapan yang pernah saya baca di sebuah artikel. Sama hal nya setiap karakter yang diciptakan Hosseini dalam karyanya ini. Masing-masing punya warnanya sendiri. Tuan Wahdati yang dianggap arogan dan kaku oleh Nabi ternyata menyimpan rahasia besar selama ini. Meski Nabi melayani dengan setia Tuannya, kadang ia menyimpan rasa penasarannya dalam-dalam. Berharap ada penjelasan di balik semua itu, dan benar saja, ia mendapatkan penjelasannya dari Tuan Wahdati sendiri. Kisah Majikan dan pembantunya yang tidak biasa. Ada pengorbanan, kebohongan terselubung, rasa sakit, haru namun melegakan.

Secara keseluruhan, Hosseini menggambarkan dengan gamblang sifat masing-masing tokohnya. Mengalir dan berputar, membawa saya ke Paris, Kabul, Yunani, dan Amerika di saat yang bersamaan. Yah, maksud saya pikiran saya dibawa olehnya. Membayangkan bagaimana setiap tempat mempengaruhi setiap karakter. Pertumbuhan dan sudut pandang mereka. Dengan watak yang berbeda-beda, sebagian besar karakter diberi kenangan yang dalam akan rumah dan kenangan mereka masing-masing.

Hosseini menggali cukup dalam hanya untuk menyuguhkan kita pribadi yang berkesan di dalam diri masing-masing karakter. Agak kompleks. Namun dimana-mana yang dicari dari sebuah carita adalah bagaimana ending cerita tersebut. Tak ada happy atau sad ending, masing-masing pembaca punya versi tersendiri mengenai hal itu. Dalam novel ini, tentunya ekspektasi saya adalah melihat bagaimana Abdullah, sang kakak yang begitu melindungi Pari bak permata bisa akhirnya bertemu adiknya dalam waktu singkat. Nyatanya, tak semudah itu. Jalurnya berbeda. Ia malah dipertemukan Pari dalam keadaan yang tidak diharapkan. Sang kakak, yang justru merasakan kehilangan dan luka yang amat sangat perih malah tidak memenuhi harapan saya pada akhir cerita. Di sisi lain, Pari yang dipisahkan dengan Abdullah tanpa mengerti dan mengingat apa-apa, seakan-akan tombol reset telah ditekan oleh orang-orang sekelilingnya, justru merasa hidupnya telah terpenuhi karena akhirnya bisa bertemu dengan masa lalunya yang paling berharga. Masa lalu yang tertutupi oleh kabut tebal. Masa lalu yang menjadi pemecah teka-teki kehidupannya. Masa lalu yang menutupi lubang-lubang di hatinya. Pari merasa lega. Saya pun lega.

Menurut saya beberapa hal menjadi hi-lite dalam novel ini, seperti sebuah kotak milik Pari yang selama ini disimpan oleh Abdullah berisi bulu, namun sebagai pembaca, saya menangkap hal lain dan menurut saya hal itu tidak begitu berbekas di ingatan saya. Yang ada hanya ingatan tentang luka di hati dan bagaimana masa lalu ataupun masa depan bisa menjadi penawar sakit setiap orang.

Well, itu dia, review saya mengenai novel ini. Kalau lebih mirip curhatan ketimbang review buku, ya biarkan saja saya. Sekian. Semoga bermanfaat.

Selamat berbahagia di bulan Ramadhan yang penuh berkah.

Silenced By The Night

Thank God for the melody that flows. Reminds me of the past.

The past where I can hold him. The past where I can stare at his sharp-eyed. Not to mention the childish smile that fooled me. Nothing is warmer than your touch. Whenever we hugged or shook hands after a sincere apology. Nothing is funnier than the fight of sister and brother. Who love each other but argued all the time over a stupid thing. Just like most kids do.

So Thank God for the night. Where we can rest in silence.

Like our love that doesn’t show in the surface. It stays calm. The love that only we knows. Like the silence of the night that embraced whole world without us knowing. It encourages us to protect the weak one, to be wise, to holding on someone we love.

I don’t know if it’s still matter in the day after, but as I still breath and walk on this ground,  I will always cherish all the memories he left me. I spent all day beautifully with him. Beautifully odd. The memories that I carry for the rest of my life.

My dear, I know I am such pain in the a** sometimes, maybe many times or most times but what can I do darling? Its a fragile soul live within a fragile circle. A soul that always reach out for somebody…like you. Like you my dearly brother. You saw me, knew me, we’ve been tru all those rough days oddly. Because I was odd and you weren’t. I am odd and you are not…just so you know I will always be odd in people’s point of view. I am who i am. I love you always and miss you most days. Night after night I spent wondering if you can still watch me all day…

scan0002 - Copy

Oh simple thing where have you gone?
I’m getting old and I need something to rely on
So tell me when you’re gonna let me in
I’m getting tired and I need somewhere to begin

And if you have a minute why don’t we go
Talk about it somewhere only we know?
This could be the end of everything
So why don’t we go
Somewhere only we know?

(KEANE)

月涼し蛙の聲のわきあがる

tsuki suzushi

kawazu no koe no

wakiagaru

the moon is cool

frogs’ croaking

wells up

[Masaoka Shiki, a poet]

View on Path

Don’t Hide Away

On the night in question, you took from the records from your record collection and smashed them into pieces, pieces on the ground.
And you didn’t even try to deny it.
You said that you needed it quiet.
They were playing, they were playing, and you had to get away from the sound.

Don’t hide away too high or low.
I’d really like to see you, don’t you know?
Don’t hide away. Please keep in close.
Cause if I can’t seem to find you, then you’ll stay alone.

By your own admission, there is nothing left to eat in the kitchen, and the garbage and the clutter is piling up out in the hall. Well you know I’m gonna write you a letter, every day like you were a debtor, so you might as well pick up the phone and give me a call.

Don’t hide away too high or low.
I’d really like to see you, don’t you know?
Don’t hide away. Please keep in close.
Cause if I can’t seem to find you, then you’ll stay alone.

–TBA